Sabtu, 08 November 2014

ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Ahda Bina Afianto

A.   Keutamaan Ilmu dan Ilmuwan

1.      Keutamaan Ilmu

a.      Di antara hasad yang diperbolehkan

لا حَسَدَ إِلاَّ في اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً ، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ ، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا . متفقٌ عَلَيْهِ .
“Hasad itu tidak diperkenankan, kecuali dalam dua hal. Pertama, hasad pada seseorang yang diberi oleh Allah akan harta yang melimpah, lalu ia menghabiskan harta itu di jalan kebenaran. Kedua, hasad pada seseorang yang diberi oleh Allah akan ilmu, lalu ia menggunakan ilmu itu untuk memutuskan perkara dan mengajarkannya.” (Muttafaq ‘alaih)

b.      Memudahkan penuntut ilmu masuk surga

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً ، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقاً إِلَى الجَنَّةِ . رواه مسلم .
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

c.       Ilmu merupakan salah satu sumber pahala tiada henti

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ . رواه مسلم .
“Apabila anak Adam (manusia) meninggal, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim)

d.      Orang yang belajar itu sama dengan berjihad

مَنْ خَرَجَ في طَلَبِ العِلْمِ فَهُوَ في سَبيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ  . رواه الترمذي
“Barangsiapa keluar rumah untuk menuntut suatu ilmu, maka ia sama dengan orang yang berangkat jihad fi sabilillah, sampai ia kembali ke rumahnya.” (HR. Tirmidzi)

e.       Malaikat pun membentangkan sayap untuk pencari ilmu

وَإنَّ المَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ . رواه أبو داود والترمذي .
“Sungguh para malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang yang sedang menuntut ilmu sebagai tanda ridha malaikat pada orang itu. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2.      Keutamaan Ilmuwan

a.      Ditinggikan derajatnya

 “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

b.      Hanya orang yang berilmu yang selamat

الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا ، إِلاَّ ذِكْرَ الله تَعَالَى ، وَمَا وَالاهُ ، وَعَالِماً ، أَوْ مُتَعَلِّماً . رواه الترمذي
“Dunia itu terlaknat, dan terlaknatlah semua yang ada di dunia itu, kecuali dzikir kepada Allah,  ketaatan kepada-Nya, dan orang yang berilmu, atau yang mengajarkan ilmu.” (HR. Tirmidzi)

c.       Dimohonkan ampunan oleh seluruh penduduk langit dan bumi

وَإنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّماوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ حَتَّى الحيتَانُ في المَاءِ . رواه أَبُو داود والترمذي
“Sesungguhnya semua yang ada di langit dan di bumi itu selalu memohonkan ampunan bagi orang yang berilmu, termasuk ikan paus di laut.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

d.      Memperoleh keutamaan jauh di atas ahli ibadah

وَفضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ . رواه أَبُو داود والترمذي .
“Keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah itu ibarat keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

e.       Pewaris para nabi

وَإنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ ، وَإنَّ الأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ . رواه أَبُو داود والترمذي .
“Sesungguhnya orang-orang yang berilmu adalah pewaris para nabi. Sedangkan para nabi itu tidak mewariskan dirham. Para nabi itu hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil keuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

B.   Akhlak Mencari Ilmu

1.      Niat yang tulus

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ - عز وجل - لا يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ القِيَامَةِ . رواه أَبُو داود .
“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia mempelajarinya untuk mencapai keuntungan duniawi, maka kelak di hari kiamat ia tidak akan mendapati aroma surga.” (HR. Abu Dawud)

2.      Selalu berusaha menambah ilmu

 “Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu padaku.” (QS: Thaha: 114).
Sufyan bin ‘Uyainah, salah seorang ulama besar, ditanya, “Siapakah orang yang paling berkepentingan untuk terus menambah ilmu?”
Ia menjawab, “Orang yang paling banyak ilmunya, karena kesalahan yang dia lakukan menjadi nampak lebih buruk.”[1]

3.      Berguru pada ahlinya

 “Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu, bila engkau tidak mengetahui ilmunya.” (QS: al-Nahl: 43 dan al-Anbiya’: 7).
 “Seseorang tidaklah akan mampu memberimu ilmu, selain orang yang benar-benar ahlinya.” (QS: Fathir: 14)

4.      Bertanya dengan tepat

Bila kita perhatikan, dalam al-Qur’an disebutkan beberapa macam pertanyaan.[2] Pertama, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang musyrik. Kedua, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Yahudi, atau pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari mereka dan disampaikan kepada orang-orang Quraisy, seperti pertanyaan tentang ruh dan Dzulqarnain. Ketiga, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para shahabat.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para shahabat itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang praktis, sesuai dengan keperluan nyata mereka sehari-hari. Seperti pertanyaan tentang hilal, apa yang perlu disedekahkan, hukum khamer dan perjudian, dan darah haidh.



[1] Yusuf al-Qaradhawi, al-‘Aql wa al-‘Ilm fi al-Qur’an al-Karim (Kairo: Maktabah Wahbah: 1996), hal. 211.
[2] Yusuf al-Qaradhawi, al-‘Aql wa al-‘Ilm fi al-Qur’an al-Karim, hal. 215.