ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN
Oleh: Ahda Bina
Afianto
A. Keutamaan Ilmu dan Ilmuwan
1.
Keutamaan Ilmu
a. Di antara hasad
yang diperbolehkan
لا حَسَدَ إِلاَّ في
اثْنَتَيْنِ : رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً ، فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الحَقِّ
، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الحِكْمَةَ ، فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا . متفقٌ
عَلَيْهِ .
“Hasad itu tidak diperkenankan, kecuali dalam dua hal. Pertama,
hasad pada seseorang yang diberi oleh Allah akan harta yang melimpah, lalu ia
menghabiskan harta itu di jalan kebenaran. Kedua, hasad pada seseorang yang
diberi oleh Allah akan ilmu, lalu ia menggunakan ilmu itu untuk memutuskan
perkara dan mengajarkannya.” (Muttafaq ‘alaih)
b. Memudahkan
penuntut ilmu masuk surga
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقاً
يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْماً ، سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقاً إِلَى الجَنَّةِ . رواه مسلم
.
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah
akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
c. Ilmu merupakan
salah satu sumber pahala tiada henti
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ
انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ
بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ . رواه مسلم .
“Apabila anak Adam (manusia) meninggal, maka terputuslah semua
amalnya, kecuali tiga hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan
anak saleh yang senantiasa mendoakannya.” (HR. Muslim)
d. Orang yang
belajar itu sama dengan berjihad
مَنْ خَرَجَ في طَلَبِ
العِلْمِ فَهُوَ في سَبيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ . رواه الترمذي
“Barangsiapa keluar rumah untuk menuntut suatu
ilmu, maka ia sama dengan orang yang berangkat jihad fi sabilillah, sampai ia
kembali ke rumahnya.” (HR. Tirmidzi)
e. Malaikat pun
membentangkan sayap untuk pencari ilmu
وَإنَّ المَلاَئِكَةَ
لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رِضاً بِمَا يَصْنَعُ . رواه أبو داود
والترمذي .
“Sungguh para malaikat itu membentangkan sayapnya pada orang
yang sedang menuntut ilmu sebagai tanda ridha malaikat pada orang itu. (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi)
2.
Keutamaan Ilmuwan
a. Ditinggikan
derajatnya
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
b. Hanya orang
yang berilmu yang selamat
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ
، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا ، إِلاَّ ذِكْرَ الله تَعَالَى ، وَمَا وَالاهُ ، وَعَالِماً
، أَوْ مُتَعَلِّماً . رواه الترمذي
“Dunia itu terlaknat, dan
terlaknatlah semua yang ada di dunia itu, kecuali dzikir kepada Allah, ketaatan kepada-Nya, dan orang yang berilmu,
atau yang mengajarkan ilmu.” (HR. Tirmidzi)
c. Dimohonkan
ampunan oleh seluruh penduduk langit dan bumi
وَإنَّ
العَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّماوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ حَتَّى الحيتَانُ
في المَاءِ . رواه أَبُو داود والترمذي
“Sesungguhnya semua yang ada di langit dan di bumi itu selalu memohonkan
ampunan bagi orang yang berilmu, termasuk ikan paus di laut.” (HR. Abu Dawud
dan Tirmidzi)
d.
Memperoleh keutamaan jauh di atas
ahli ibadah
وَفضْلُ
العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ عَلَى سَائِرِ الكَوَاكِبِ . رواه أَبُو
داود والترمذي .
“Keutamaan seorang yang berilmu atas seorang yang ahli ibadah itu ibarat
keutamaan bulan atas seluruh bintang-bintang.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
e.
Pewaris para nabi
وَإنَّ
العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ ، وَإنَّ الأنْبِيَاءَ لَمْ يَوَرِّثُوا دِينَاراً
وَلاَ دِرْهَماً وَإنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بحَظٍّ وَافِرٍ
. رواه أَبُو داود والترمذي .
“Sesungguhnya orang-orang yang
berilmu adalah pewaris para nabi. Sedangkan para nabi itu tidak mewariskan
dirham. Para nabi itu hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, maka
ia telah mengambil keuntungan yang besar.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
B. Akhlak Mencari Ilmu
1.
Niat yang tulus
مَنْ
تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ - عز وجل - لا يَتَعَلَّمُهُ
إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضاً مِنَ الدُّنْيَا ، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الجَنَّةِ يَوْمَ
القِيَامَةِ .
رواه أَبُو داود .
“Barangsiapa
mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk mencapai ridha Allah ‘Azza wa
Jalla, namun ia mempelajarinya untuk mencapai keuntungan duniawi, maka kelak di
hari kiamat ia tidak akan mendapati aroma surga.” (HR. Abu Dawud)
2. Selalu berusaha menambah ilmu
“Dan berdoalah, “Wahai Tuhanku, tambahkanlah
ilmu padaku.” (QS: Thaha: 114).
Sufyan
bin ‘Uyainah, salah seorang ulama besar, ditanya, “Siapakah orang yang paling
berkepentingan untuk terus menambah ilmu?”
Ia
menjawab, “Orang yang paling banyak ilmunya, karena kesalahan yang dia lakukan menjadi
nampak lebih buruk.”[1]
3. Berguru pada ahlinya
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang
berilmu, bila engkau tidak mengetahui ilmunya.” (QS: al-Nahl: 43 dan
al-Anbiya’: 7).
“Seseorang tidaklah akan mampu memberimu ilmu,
selain orang yang benar-benar ahlinya.” (QS: Fathir: 14)
4. Bertanya dengan tepat
Bila
kita perhatikan, dalam al-Qur’an disebutkan beberapa macam pertanyaan.[2]
Pertama, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang musyrik. Kedua,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang Yahudi, atau
pertanyaan-pertanyaan yang berasal dari mereka dan disampaikan kepada
orang-orang Quraisy, seperti pertanyaan tentang ruh dan Dzulqarnain. Ketiga,
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para shahabat.
Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan oleh para shahabat itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang
praktis, sesuai dengan keperluan nyata mereka sehari-hari. Seperti pertanyaan
tentang hilal, apa yang perlu disedekahkan, hukum khamer dan perjudian, dan
darah haidh.
